Selasa, 22 Juli 2008

Surat Kabar

Surat kabar pengertian secara sempit adalah berasal dari istilah pers yang diambil dari istilah asing tetapi kerap dipakai dalam bahasa Indonesia. Aslinya ditulis press yang berarti percetakan atau mesin cetak. Mesin cetak inilah yang memungkinkan terbitnya surat kabar, sehingga orang mengatakan pers itu untuk maksud persuratkabaran. Sedangkan jurnalistik berfungsi untuk mengarahkan pers pada fungsinya sebagai pembawa dan penyalur informasi, fakta, data, keterangan, dan hiburan bagi semua orang yang meminatinya, oleh karena itu berbicara pers atau surat kabar mau tidak mau kita harus pula mempelajari ilmu tentang jurnalistik (Suhandang, 2001:4).
Adapun pengertian jurnalistik adalah: "Jurnalistik adalah seni atau keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi hati nurani khalayak". Indah dalam arti dapat dinikmati dan diminati sehingga bisa merubah sikap, sifat, pendapat, dan tingkah laku khalayaknya (Suhandang,2001:21).
Surat kabar atau juga bisa disebut pers adalah salah satu kekuatan sosial dan ekonomi yang cukup penting dalam masyarakat. Pada awal perkembanganya, di Itali, Surat kabar dalam bentuk yang sangat sederhana, lembaran-lembaran kertas yang dipublikasikan secara lokal, hingga dalam bentuk yang sekarang dapat dilihat, dengan halaman yang banyak serta dalam radiasi publikasi kelas internasional. Di jerman, koran pertama kali muncul pada awal abad ke-17. Sedangkan di Inggris, dalam bentuk lembaran-lembaran kertas, lahir pada 1621. Semua itu merupakan cikal bakal dunia persuratkabaran yang kini terbit secara periodik, dengan produksi yang serba mekanik (Muhtadi,1999:88-89).
Jadi. Surat kabar adalah wadah atau baki penyajian karya jurnalistik yang berupa informasi aktual, hiburan, keterangan, atau penerangan dalam bentuk berita, tajuk, kritik, ulasan, ataupun artikel-artikel dengan menggunakan mediasi kertas dan sebagainya.
Sementara itu, menurut Onong surat kabar merupakan media termasa yang tergolong populer dikalangan masyarakat. Baik itu tingkat atas, maupun tingkat bawah. Dalam kamus komunikasi, surat kabar diartikan sebagai "Lembaran yang tercetak yang memuat laporan yang terjadi di masyarakat dengan ciri-ciri, terbit secara periodik, bersifat umum, isinya termasa, aktual, menganai apa saja dan dari mana saja di seluruh dunia, yang mengandung nilai untuk diketahui khalayak pembaca (Effendy,1986:241).
Surat kabar menurut Assegaff adalah "Penerbitan yang berupa lembaran yang berisi berita-berita, karangan-karangan dan iklan, yang dicetak dan terbit secara tetap atau periodik dan dijual untuk umum (Assegaff, 1983:40).
Jadi jelas. Bahwa surat kabar merupakan lembaran kertas yang menghimpun informasi dari berbagai penjuru dunia melalui media cetak diatas kertas.
2. Sejarah Singkat Surat Kabar
Sejarah persuratkabaran menurut catatan para tokoh sejarah dimulai pada zaman jayanya kerajaan Romawi di bawah kekuasaan Maharaja Julius Caesar. Pada masa itu kegiatan jurnalistik dilakukan oleh para budak belian yang disuruh majikannya mengutip segala peristiwa pada hari itu yang terkait dengan status atau kegiatan usaha majikannya yang diberitakan dalam acta diurna yang dipasang di Forum Romanum (Stadion Ramawi). Semua tugas itu dilaksanakan hanya untuk kepantingan majikannya semata. Namun demi kebutuhan masyarakat lainnya akan berita, atas prakarsa budak belian itu pula kutipan beritanya diperbanyak untuk di jual kepada mereka yang memerlukanya. Budak belian yang melakukan pekerjaan demikian lazim disebut diurnarius (tunggal) atau diurnarii (Jamak) (Suhandang, 2001:7).
Menurut Suhandang, data selanjutnya diperoleh para ahli sejarah negara Romawi pada permulaan berdirinya Kerajaan Romawi. Pada masa itu para pejabat tinggi kerajaan Romawi (Imam Agung) mencatat segala kejadian penting yang diketahuinya pada annales (papan tulis yang digantungkan di depan serambi rumahnya). Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan kepada setiap orang yang lewat dan memerlukannya.
Pengumuman semacam itu tersebut kemudian dilanjutkan oleh Julius Caesar pada zaman kejayaannya. Caesar mengumumkan hasil persidangan senat, berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya, dengan menuliskannya di dalam acta diurna yang ditempel di alun-alun kerajaan (Forum Romanum). Ahli sejarah, Tacitus, menceritakan bahwa Chrestus dan Marcus adalah diurnarii yang melayani abone (majikan) mereka yang bernama Cicero, yang pada saat itu bertindak sebagai Konsul Muda Asia Kecil (Suhandang, 2001:12).
Umur acta diurna hanya mencapai lima abad. Setelah kerajaan Romawi runtuh, maka hilang pula acta diurna itu. Namun demikian, dari hasil penelitian sejarahnya itu, kita dapat mengetahui bahwa pada permulaan pertumbuhannya, jurnalistik sebagai cikal bakal lahirnya surat kabar berjalan dengan kondisi sebagai berikut:
1. Subjek penyajiannya berupa pemerintah.
2. Jurnalis atau wartawannya sebagai perantara dalam penyiaran, terdiri dari mereka yang mencari dan menyiarkan berita dengan memperoleh upah
3. Alat penyiarannya berupa papan pengumuman (acta diurna) dan catatan-catatan para jurnalis yang diperbanyak, serta pemberitaan lisan dari para jurnalis tersebut.
Surat kabar yang berwibawa dan terpercaya mencipatkan komunitasnya
tersendiri, dan menjalankan operasi pengumpulan berita yang terbesar.
Harian Kompas, misalnya, adalah sebuah operasi pengumpulan berita
terbesar dan tidak ada yang bisa melakukan operasi serupa seperti yang
dijalankan harian ini.
Kenapa? Karena beberapa alasan yang terkait dengan ciri yang
melekat pada surat kabar itu sendiri. Pertama, surat kabar mempunyai
kemampuan menyunting yang dibutuhkan oleh dunia baru sekarang ini.
Kedua, surat kabar mempunyai kemampuan untuk membantu orang untuk
menentukan hal yang masuk akal dengan meledaknya informasi secara
masif. Dan ketiga, berkaitan dengan masalah krebilitas, surat kabar
mempunyai imprimatur (hak untuk mencetak) yang diandalkan orang ketika
mereka mencari untuk menentukan apa yang harus dipercaya dari
banyaknya informasi yang tersedia.
SEMAKIN banyak situs Web yang bermunculan setiap hari di
jaringan Internet menimbulkan berbagai pertanyaan menarik, di
mana peranan jurnalisme di masa mendatang? Siapa yang bisa disebut
sebagai jurnalis dan bukan? Apakah semua orang akan membaca berita
secara online pada tahun 2015?
Atau pertanyaannya berubah. Apakah kita harus mengalihkan yang
terbaik dalam jurnalisme seperti etika jurnalisme untuk masuk ke
dalam jaringan Internet? Seberapa jauh dan dalam sebenarnya
jurnalisme harus masuk ke dalam jaringan Internet? Di berbagai
newsroom, muncul banyak pertanyaan tentang apa yang akan hilang dengan
perkembangan jaringan Internet ketimbang kesempatan apa yang
hilang dengan pesatnya pertumbuhan situs Web kalau media tradisional
tidak ikut ke dalamnya

Surat kabar yang berwibawa dan terpercaya mencipatkan komunitasnya
tersendiri, dan menjalankan operasi pengumpulan berita yang terbesar.
Harian Kompas, misalnya, adalah sebuah operasi pengumpulan berita
terbesar dan tidak ada yang bisa melakukan operasi serupa seperti yang
dijalankan harian ini.
Kenapa? Karena beberapa alasan yang terkait dengan ciri yang
melekat pada surat kabar itu sendiri. Pertama, surat kabar mempunyai
kemampuan menyunting yang dibutuhkan oleh dunia baru sekarang ini.
Kedua, surat kabar mempunyai kemampuan untuk membantu orang untuk
menentukan hal yang masuk akal dengan meledaknya informasi secara
masif. Dan ketiga, berkaitan dengan masalah krebilitas, surat kabar
mempunyai imprimatur (hak untuk mencetak) yang diandalkan orang ketika
mereka mencari untuk menentukan apa yang harus dipercaya dari
banyaknya informasi yang tersedia.

Kredibilitas
Banyaknya gagasan untuk membentuk dan membangun situs Web oleh
semua orang, termasuk perusahaan-perusahaan besar, di Indonesia,
memang mempunyai dampak yang serius bagi surat kabar. Alasannya
sederhana, semua situs Web (apa pun isinya) memerlukan tenaga-tenaga
jurnalistik untuk bisa mengisinya.
Mengisi situs Web akan menjadi persoalan bagi perusahaan-perusahaan
yang tidak punya tenaga terlatih dalam jurnalistik. Untuk menjadikan
situs Web tertentu sering dikunjungi oleh para pengguna Internet,
situs ini harus memiliki kepercayaan dan kredibilitas yang setara
seperti, misalnya, media surat kabar.
Akibatnya, akan muncul "pengungsi" jurnalistik karena tingginya
kebutuhan dan kesempatan yang diberikan oleh situs Web ketimbang media
tradisional seperti koran yang dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu.
Dengan semakin banyaknya "pengungsian" jurnalistik, akan semakin
banyak pula media online yang berwibawa dan berkualitas yang akan
muncul di jaringan Internet.
Karena bagi perusahaan-perusahaan besar, apa pun tujuan dan
strategi Internet yang hendak dibangun, kemampuan untuk mengisi situs
Web mereka dengan berbagai informasi dibutuhkan tenaga-tenaga
terlatih. Situs Web juga harus mempunyai standar yang tinggi, karena
dalam Internet siapa saja bisa menjadi penyedia informasi. Akan
tetapi, tidak semua situs Web penyedia informasi mempunyai etika yang
terinstitusionalisasi, pengalaman, dan proses penyuntingan.
Tanpa penyaringan seperti ini, bisa dipastikan situs Web ini akan
sama seperti yang terjadi pada media tradisional kecil lainnya. Media
jenis ini tidak memberikan dampak yang besar dalam skala besar dan
tidak akan tersebar secara meluas. Media seperti ini akan membuat
berbagai kesalahan-kesalahan, tetapi tidak ada perhatian yang
ditujukan pada kesalahan tersebut.

Pengganti
Sebaliknya, bagi media tradisional yang mempunyai jaringan online
dengan situs Web-nya sendiri, banyak persoalan etika dan kebijakan
yang muncul untuk dibahas secara lebih luas, dan selalu richochet
(memantul) dalam pelaksanaannya yang bersinggungan, misalnya, dengan
masalah editorial, iklan, hak cipta, dan lainnya.
Berbagai pertanyaan muncul. Apakah situs Web sebuah media surat
kabar, misalnya, bisa membuat kaitan (link) dengan situs yang memuat
file perkosaan kerusuhan Mei 1998? Kalau ya, apakah pengunjung situs
Web harus diberikan peringatan tentang gambar-gambar yang akan dilihat
dalam situs Web tersebut?
Masalah lain yang juga menjadi perdebatan dan belum ditemukan
jawabannya adalah bagaimana situs Web seperti Kompas Online, misalnya,
menanggapi pesan e-mail otomatis yang mengklaim situs ini telah
melanggar hak sebuah situs Web di Guatemala karena menggunakan salah
satu gambar mereka dalam salah satu beritanya?
Atau, apakah bisa diterima sebuah diskusi dalam situs Web berita
dari seorang wanita yang kemungkinan hanya bisa diidentifikasi dari
alamat e-mail-nya saja yang menuduh bekas suaminya telah melakukan
penyiksaan fisik? Atau, kalau telah terjadi kesalahan dalam laporan
berita tentang kecelakaan di mana korbannya dinyatakan mati, bisa
begitu saja dihapus 30 menit kemudian dari situs Web dan mengabaikan
begitu saja?
Masih banyak lagi pertanyaan yang muncul dengan maraknya situs Web
yang memberikan berbagai jenis informasi, apakah berita umum atau
informasi khusus. Ditemukannya jaringan Internet dan semakin mudahnya
orang untuk membangun situs Web sendiri, memang memungkinkan semua
orang menjadi reporter dan editor sekaligus. Sehingga, yang paling
mendasar dari perkembangan jaringan Internet dan jurnalisme adalah
tidak ada pengganti yang bisa digunakan untuk menentukan sebuah berita
itu baik atau buruk.
Besar dan cepat
Hal terpenting dalam menjalankan reportase profesional baik
seperti yang terjadi dalam media cetak dan media siaran juga akan
membedakan jurnalisme yang baik dengan berita-berita sampah di situs
Web. Seorang reporter tidak boleh dibiarkan hilang dalam sebuah
newsroom Internet tanpa memiliki dasar-dasar yang kuat.
Jurnalisme merupakan penerjemahan dari sebuah medium ke medium
berikutnya. Seorang wartawan harus tahu memeriksa sumber-sumbernya.
Secara ideal, mereka tidak bisa menjadi editor untuk diri sendiri.
Reportase harus tahu bagaimana mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
baik dan menceritakan kembali dengan baik.
Jaringan Internet juga membutuhkan informasi-informasi yang benar
dan situs Web informasi juga ingin melayani sebuah komunitas.
Persoalan-persoalan seperti ini memang sudah terjadi pada media
tradisional, dan jaringan Internet menyebabkan isu-isu lama ini
menjadi besar dan cepat.
Jurnalisme akan mengalami rekonfigurasi dengan perkembangan
jaringan Internet, secara perlahan kebijakan dikembangkan alasan yang
sama kenapa kebijakan telah berkembang. Persoalan yang muncul secara
jurnalistik akan terus bermunculan terus menerus.
Interaksi e-mail, situs Web, keterkaitan hypertext, kemudahan
transfer gambar dan data, serta isu lainnya akan mendorong kita ke
sebuah sudut dan memaksa kita untuk menentukan standar dan kebijakan
baru. Dalam ungkapan yang sederhana, semua ini berarti mengembangkan
sebuah lingkungan yang lebih tanggap ketimbang aturan-aturan tertulis
yang kaku dan dibuat tergesa-gesa. (Rene L Pattiradjawane)

Tidak ada komentar: