Online jurnalism atau lebih dikenal dengan nama jurnalisme online lahir pada tanggal 19 Januari 1998, ketika Mark Drugde membeberkan cerita perselingkuhan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan Monica Lewinsky atau yang sering disebut “monicagate”. Ketika itu, Drugde berbekal sebuah laptop dan modem, menyiarkan berita tentang “monicagate” melalui internet. Semua orang yang mengakses internet segera mengetahui rincian cerita “monicagate”.
Itulah awal mula merebaknya jurnalisme online. Kenyataan yang dipaparkan di atas menyatakan bahwa jurnalisme online itu seolah-olah bukanlah jurnalisme Hal ini disebabkan karena orang yang tidak mempunyai ketrampilan jurnalistik pun bisa bercerita melalui jurnalisme online tersebut.
Orang yang tidak mengenal seluk beluk jurnalisme juga bisa menyampaikan ide-idenya melalui internet. Berkaitan dengan tingkat kredibilitas atas berita yang ada pada jurnalisme online tampaknya sulit dipastikan. Yang jelas, kesalahan pemberitaan mungkin saja terjadi.
Semua media mempunyai kemungkinan kesalahan. Tidak mungkin jurnalisme online bebas dari kesalahan sama sekali. Bahkan berita seperti media televisi, radio, maupun surat kabarpun yang notabene dihasilkan oleh orang-orang yang mempunyai ketrampilan jurnalistik pastinya juga masih ada kesalahannya.
Nilai-nilai yang dibawa jurnalisme online adalah :
1.Nilai egaliter Dimana setiap individu bebas merealisasikan sumber dayanya dari mengerahkan segala potensinya untuk menggapai semua bagian dalam menentukan jalan yang disenangi. Setiap individu bebas memanfaatkan peluang berkomunikasi dengan siapa saja untuk mewarisi peradaban dunia dengan bebas dan mengaktualisasikan dirinya.
Singkatnya, manusia benar-benar tidak mengalami diskriminasi dalam menjalankan kehidupannya. Dalam titik ini, apabila ada sebagian masyarakat yang kurang menyetujui adanya jurnalisme online maka menjadi kurang etis karena perkembangan jurnalisme online akan terus berlanjut, mengingat perkembangan teknologi yang semakin maju dalam peradaban ini.
Oleh karena itu yang diperlukan hanyalah pengertian dari masyarakat untuk menyiapkan diri mereka menuju jurnalisme online yang lebih praktis dan cepat.
2.Nilai liberal Dalam jurnalisme online sangat menjunjung tinggi adanya kebebasan berpendapat serta berkumpul dan berserikat. Menurut paham liberal, ini merupakan kebebasan asasi yang dimiliki oleh setiap manusia. Selain itu posisi antara masyarakat dan negara adalah setara, dalam artian bahwa negara tidak boleh mencampuri urusan atau kehidupan masyarakat.
Maka dari itu terdapat pembatas yang jelas antara keduanya, dimana keduanya berinteraksi secara independen. Dengan demikian, keinginan sejumalah aparat untuk menyensor jurnalisme online hanya mempunyai tingkat frekuensi yang kecil.
Namun, hal ini berbeda di negara kita, Indonesia bukanlah negara liberal tetapi demokrasi. Akan tetapi perkembangan jurnalisme online di Indonesia juga relatif cepat.
Perkembangannya dimulai dengan kemunculan situs bernama www.detik.com. Situs ini muncul sebagai representasi perlawanan “ketidakbebasan” pers yang dikungkung oleh penguasa Orde Baru. Kemunculannya pun dikarenakan pertimbangan bahwa tidak ada kemungkinan untuk dibreidel atau dihentikan arus informasinya melalui jaringan internet.
Pada waktu itu berita yang agak menyinggung rezim yang berkuasa akan berdampak hukum subversi sehingga fungsi kritik yang konstruktif hampir mustahil dilakukan di masa itu. Inilan yang menjadi “casus beli” munculnya jurnalisme online.
Pada dasarnya jurnalisme online memiliki persamaan dengan jurnalisme konvensional, hanya saja perbedaannya terletak pada media dan mekanisme efisiensi pencarian, pengolahan dan penyebarluasan beritanya. Jurnalisme online merupakan jurnalisme yang menganut proses pencarian, pengolahan, dan penyebarluasan informasi melalui fasilitas dalam media internet.
Perkembangan jurnalisme online diikuti oleh perkembangan situs-situs yang diusahakan oleh surat kabar konvensional. Akan tetapi tidak sedikit situs-situs baru yang tidak dimiliki afiliasi dengan media konvensional. Permasalahnnya terletak pada, pertama batasan pemberitaan utama pada jurnalisme online.Batasannya adalah etika jurnalistik. Tetapi masalah kepatuhan terhadap prinsip umum etika jurnalistik adalah persoalan individu.
Maka diperlukan orang lain sebagi pihak yang mengawasi pelaksanaan prinsip umum etika jurnalistik ini yaitu, masyarakat. Artinya masyarakat harus melakukan pengawasan sosial pada orang-orang yang menggunakan jurnalisme online. Kedua, persoalan eksploitasi masyarakat oleh kalangan industrialis komputer.
Untuk memenuhi keinginan masyarakat bisa menjadi pengontrol informasi, industrialis komputer berlomba-lomba menciptakan perangkat lunak yang bisa dipakai untuk meyiarkan dan mengakses berita secara online.
Kenyataan menunjukkan, makin canggih perangkat keras dan lunak komputer, makin mahal harganya. Celakanya, semakin sering masyarakat mengakses online journalism, semakin muncul dorongan agar mereka bisa mengakses dengan cepat. ”Mengakses dengan cepat” ini bisa dilakukan dengan yang canggih. Tanpa sadar, masyarakat sudah tereksploitasi oleh industrialis computer. (Prabowo, Wibawa, Lestari 2003: 95-101).
Jurnalisme online menjadi berbeda dengan jurnalisme konvensional yang sudah dikenal sebelumnya seperti cetak, radio, TV. Hal ini bukan semata-mata karena dia mengambil angle yang berbeda; melainkan karena jurnalisme ini dilangsungkan di atas sebuah media baru yang mempunyai karakteristik yang berbeda baik dalam format, isi, maupun mekanisme dan proses hubungan penerbit dengan pengguna/pembacanya yaitu dengan menggunakan media internet.
Karekteristik jurnalisme online yang paling terasa meskipun belum tentu disadari adalah kemudahan bagi penerbit maupun masyarakat untuk membuat peralihan waktu penerbitan dan pengaksesan. Penerbit online bisa menerbitkan maupun mengarsip artikel-artikel untuk dapat dilihat saat ini maupun nanti.
Ini sebenarnya dapat dilakukan oleh jurnalisme konvensional, namun jurnalisme online dimungkinkan untuk melakukannya dengan lebih mudah dan cepat karena informasi yang disebarluaskan bisa lebih cepat daripada jurnalisme konvensional. Kemudian, karakteristik lain dari jurnalisme online yang paling popular adalah sifatnya yang real time. Berita, kisah-kisah, peristiwa-peristiwa, bisa langsung dipublikasikan pada saat kejadian sedang berlangsung.
Ini barangkali tidak terlalu baru untuk jenis media konvensional lain seperti TV maupun radio. Namun dari sisi penerbit sendiri, mekanisme publikasi real time itu lebih leluasa karena jadwal penerbitan atau siaran dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja selama dia terhubung ke jaringan Internet maka ia mampu mempublikasikan berita, peristiwa, kisah-kisah saat itu juga.
Inilah yang memungkinkan para pengguna/pembaca untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan sebuah peristiwa dengan lebih sering dan aktual. Menyertakan unsur-unsur multimedia adalah karakteristik lain jurnalisme online, yang membuat jurnalisme ini mampu menyajikan bentuk dan isi publikasi yang lebih kaya daripada jurnalisme kovensional.
Selain itu, jurnalisme online dapat dengan mudah bersifat interaktif. Dengan memanfaatkan hyperlink yang terdapat pada web, karya-karya jurnalisme online dapat menyajikan informasi yang terhubung dengan sumber-sumber lain. Ini berarti bahwa pengguna jurnalisme online dapat menikmati informasi secara efisien dan efektif namun juga tetap bisa mengetahui informasi yang lebih mendalam melalui web yang ditawarkan tersebut.
Dari karakakteristik-karakteristik tersebut di atas tersirat bahwa jurnalisme online membutuhkan penanganan yang berbeda dalam penyelenggaraannya dan dinikmati dengan cara yang berbeda oleh para penggunanya daripada jurnalisme konvensional yang bisa dinikmati tanpa harus menggunakan media seperti internet.
Artikel di VOA ini bertanggal 3 Januari 2006, melukiskan himpitan surat kabar dari segala penjuru. Ke luar, surat kabar berhadapan dengan sumber informasi lain seperti internet, TV, dan radio. Lebih parah lagi, gaya hidup masyarakat, terutama generasi baru yang berusia di bawah 35. Kelompok ini sangat sibuk, tidak ada waktu membaca surat kabar. Ke dalam, surat kabar menghadapi masalah profesionalisme dan kredibilitas pembuat berita.
Artikel diakhiri dengan pernyataan: Kecil kemungkinan koran-koran akan mati, tetapi masa depan mereka sulit diramalkan.
Surat kabar ada, terutama, karena dibutuhkan masyarakat. Bila kebutuhan masyarakat berubah (isi maupun cara memperolehnya), nasib surat kabar juga akan berubah. Cuma pertanyaannya, memang, akan perubahan bergeser ke arah lebih baik atau lebih buruk?
Jurnalisme berasal dari kata journal yang berarti catatan harian atau catatan mengenai kejadian yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan jurnalisme di Indonesia sudah semakin pesat. Keberadaan jurnalisme konvensional kini telah mulai tergeser oleh keberadaan jurnalisme on-line. Keberadaan jurnalisme on-line didukung oleh makin majunya teknologi informasi. Masyarakat yang semakin maju di era globalisasi ini perlu media yang lebih cepat untuk mengakses informasi.
Jurnalisme tidak hanya menyangkut kemampuannya menggali sumber berita, menelusuri fakta-fakta, maupun merangkainya dalam satu sajian reportase lengkap, melainkan juga kemampuan media untuk mengelola setiap informasi kemudian menyampaikannya pada khalayak. Pada dasarnya jurnalisme konvensional dan jurnalisme on-line tidak berbeda jauh, yang jelas membedakan adalah media yang dipakai untuk menyebarluaskan.
Jurnalisme konvensional adalah hasil dariproses mengolah suatu data dan fakta dengan prinsip piramida terbalik serta unsure 5W+1H. pada jurnalisme konvensional, semua berita yang disampaikan kepada publik memiliki batasan-batasan formal yang terdapat pada aturan dan etika jurnalisme yang harus dipatuhi oleh seorang jurnalis dan sebuah media massa. Salah satu bentuk jurnalisme konvensional adalah surat kabar. Pada surat kabar, dengan keterbatasan bentuk cetak kita hanya bisa menikmati informasi yang ditulis secara baku. Baik bentuk rubric maupun tata bahasanya.
Jurnalisme On-line lahir saat Mark Drugde membeberkan cerita perselngkuhan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan Monica Lewinsky. Drugde berbekal sebauh laptop dan modem kemudian menyiarkannya dengan internet. Berdasarkan kenyataan tersebut, orang yang tidak memiliki kemampuan jurnalistik pun bisa bercerita melalui jurnalisme on-line. Jurnalisme on-line sudah mulai menjamur. Hal ini jelas terjadi dengan luasnya tempat yang disediakan untuk memuat informasi maupun berita. Bahkan berita maupun informasi bisa disampaikan tidak hanya dari jurnalis tapi dapat juga dari orang awam yang tidak memiliki keahlian dan keterampilan jurnalistik secara khusus.
Kehadiran jurnalisme on-line kiranya menjadi angina segar bagi penikmat informasi yang memerlukan informasi dalam waktu singkat. Jurnalisme on-line dapat menembus hambatan ruang dan waktu. Sehingga di era sekarang dimana setiap orang disibukkan dengan segala aktifitas namun masih memerluakn konsumsi informasi. Banyak jurnalisme on-line yang tumbuh di Indonesia contohnya detik.com.
Untuk lebih mempermudah mengerti mengenai jurnalisme konvensional maupun jurnalisme on-line dapat dilihat dari fungsi keduanya sebagai media massa. Fungsi yang pertama adalah memberikan informasi. Baik jurnalisme konvensional maupun jurnalisme on-line, keduanya memiliki kemampuan untuk memberi informasi kepada khalayaknya. Fungsi yang kedua adalah hiburan. Keduanya sama-sama memberikan hiburan bagi khalayaknya. Hanya pengemasannya saja yang berbeda. Bentuk jurnalisme on-line kiranya lebih menarik karena bersifat virtual. Dengan demikian dapat disertai suara maupun gambar bergerak.
Walau sudah selesai dicetak, media belum bisa langsung dibaca oleh khalayak
Berita dan informasi disampaikan melalui batasan formal dan terdapat etika jurnalisme yang harus dipatuhi
Media yang dipakai adalah media cetak dan media elektronik, contohnya : surat kabar, radio dan televise
Memperhatikan mengenai tata bahasa
Perlu keterampilan khusus dari jurnalis untuk mengelola informasi dan berita
Tidak ada pembatasan panjang naskah, karena halaman web bisa menampung naskah sepanjang apapun
Beberapa media membebaskan jurnalisnya mengolah sendiri tulisannya
Terbitnya kapan saja, tidak ada jadwal khusus kecuali untuk rubrik tertentu
Begitu di-upload, setiap berita dapat langsung dibaca siapa saja yang mengakses tertentu
Batasannya hanya pada etika jurnalisme
Media yang dipakai adalah internet
Tidak terlalu memperhatikan tata bahasa
Tidak memerluakn keterampilan khusus dari pencari berita
Naskah biasanya harus di-ACC oleh redaksi sebelum dimuat
Terbitnya berkala
Walau sudah selesai dicetak, media belum bisa langsung dibaca oleh khalayak
Berita dan informasi disampaikan melalui batasan formal dan terdapat etika jurnalisme yang harus dipatuhi
Media yang dipakai adalah media cetak dan media elektronik, contohnya : surat kabar, radio dan televise
Memperhatikan mengenai tata bahasa
Perlu keterampilan khusus dari jurnalis untuk mengelola informasi dan berita
Tidak ada pembatasan panjang naskah, karena halaman web bisa menampung naskah sepanjang apapun
Beberapa media membebaskan jurnalisnya mengolah sendiri tulisannya
Terbitnya kapan saja, tidak ada jadwal khusus kecuali untuk rubrik tertentu
Begitu di-upload, setiap berita dapat langsung dibaca siapa saja yang mengakses tertentu
Batasannya hanya pada etika jurnalisme
Media yang dipakai adalah internet
Tidak terlalu memperhatikan tata bahasa
Tidak memerluakn keterampilan khusus dari pencari berita
Selain perbedaan diatas, keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kelebihan jurnalisme konvensional seperti surat kabar dapat dikonsumsi dimana saja dan sambil mengerjakan apa saja. Sedangkan jurnalisme on-line hanya bisa dinikmati dengan mengakses internet.
Kebenaran berita dari jurnalisme konvensional lebih terjamin dibandingkan dengan jurnalisme on-line. Hal ini dikarenakan, jurnalisme konvensional pada proses pengolahan berita dan informasi melalui editing yang cukup ketat. Pada jurnalisme on-line tidak diperlukan keterampilan khusus dari jurnalis untuk mengolah berita atau informasi.
Informasi maupun berita yang disampaikan jurnalisme konvensional lebih akurat dibandingkan dengan jurnalisme on-line. Hal ini dikarenakan, informasi yang disampaikan oleh jurnalisme berupa data dan fakta yang dihimpun dan diproses melalui kaidah jurnalisme dan etika jurnalistik dengan batasan-batasan tertentu.
Jurnalisme on-line juga memiliki kelebihan. Audience dapat memilih dengan lebih leluasa dalam memilih berita yang diinginkan. Jurnalisme on-line lebih terdokumentasi. Artinya dapat tersimpan dan dapat diakses kembali di waktu yang lain. Kelebihan lain dari jurnalisme on-line adalah kecepatan dalam penyampaian berita dan informasi. Hal yang paling menonjol adalah tampilan dari media jurnalisme on-line yang lebih menarik karena dapat disertai teks dan gambar bergerak. Hal ini yang tidak bisa ditemui di media pada jurnalisme konvensional. Jika dilihat dari segi kredibilitas, pada jurnalisme on-line sangat rentan dengan adanya kesalahan. Jelas saja penyampai informasinya saja tidak harus dari orang yang berprofesi jurnalis.
Jurnalisme on-line memungkinkan terjadinya interaksi secara langsung dengan khalayaknya. Selain itu juga, jurnalisme on-line memungkinkan adanya peningkatan partisipasi audience dalam setiap berita maupun informasi yang disampaikan. Hal ini merupakan kelebihan dari jurnalisme on-line yang tidak dimiliki oleh jurnalisme konvensional.
Tapi, seperti sifat media massa yang konvergen begitu pula keberadaan kedua media ini. Artinya, keduanya saling mendukung satu sama lain bahkan keduanya dapat disatukan dalam satu sistem seperti internet. Beberapa media yang berasal dari media konvensional dimuat juga di media on-line internet, contohnya kompas.com dan detik.com. Manusia yang majemuk dan terdiri dari berbagai lapisan masyarakat menyebabkan kedudukan kedua media ini sama kuatnya. Masih ada beberapa masyarakat kita yang tidak menguasai internet sehingga dimungkinkan hanya dapat mengaksesmedia konvensional.
Baik jurnalisme konvensional maupun jurnalisme on-line masing-masing akan mengikuti perkembanagn zaman. Keduanya juga telah mempunyai audience dengan karakteristik masing-masing. Jadi tidak akan saling menjatuhkan satu sama lain, meskipun tak bisa dipungkiri keberadaan jurnalisme on-line cukup menjadi saingan dan tantangan bagi jurnalisme konvensional. Maka dari itu perlu adanya peningkatan dari keduanya untuk dapat mempertahankan keberadaan mereka.
Para pelaku jurnalisme konvensional akan melakukan terobosan-terobosan baru atau apapun format yang baru dalam proses penyampaian berita atau informasi. Perbaikan mutu dari isi berita menjadi pilihan untuk tidak ketinggalan dari perkembangan jurnalisme on-line yang semakin cepat ini.
Masyarakat yang semakin maju ini dapat memanfaatkan keduanya untuk pemenuhan kebutuhan mereka atas segala informasi. Baik jurnalisme konvensional maupun jurnalisme on-line dapat saling berkesinambungan. Masyarakat dapat memanfaatkan keduanya dan memilih sesuai dengan kepentingan mereka.
A. Jurnalistik Konvensional
Jurnalistik konvesional dapat dikatakan adalah jurnalistik yang menggunakan media cetak maupun media elektronik seperti radio dan televisi. Terlepas dari segala bentuk definisi dari arti katanya, Jurnalisme juga dapat diartikan sebagai jurnalisme konvensional. Dalam jurnalisme konvensional, jurnalis masih berpedoman pada 5W+1H yaitu What, When, Where, Who, Why dan ditambah How.
Paham dari jurnalisme konvensional adalah sebisa mungkin dan sesegera mungkin informasi dari media dapat dimengerti dan dipahami oleh khalayak luas.
Surat kabar merupakan bagian dari jurnalisme konvensional. Menurut Agee, surat kabar memiliki tiga fungsi utama dan fungsi sekunder.
Fungsi utama media adalah :
1. to inform (menginformasikan kepada pembaca secara objektif tentang apa yang terjadi dalam suatu komunitas, negara dan dunia,
2. to comment (mengomentari berita yang disampaikan dan mengembangkannya ke dalam focus berita,
3. to provide (menyediakan keperluan informasi bagi pembaca yang membutuhkan barang dan jasa melalui pemasangan iklan di media surat kabar.
Fungsi Sekunder surat kabar adalah :
1. untuk mengkampanyekan proyek-proyek yang bersifat kemasyarakatan, yang diperlukan sekali untuk membantu kondisi-kondisi tertentu,
2. memberikan hiburan kepada pembaca dengan sajian cerita komik,kartun dan cerita-cerita khusus,
3. melayani pembaca sebagai konselor yang ramah, menjadi agen informasi dan memperjuangkan hak.
Selain surat kabar, radio dan televisi juga merupakan bagian dari jurnalisme konvensional. Radio merupakan media elektronik yang sangat luwes. Radio telah beradaptasi dengan perubahan dunia, dengan mengembangkan hubungan saling menguntungkan dan melengkapi dengan media lainnya. Koran atau surat kabar memperoleh julukan sebagai kekuatan keempat, maka radio siaran mendapat julukan kekuatan kelima atau the fifith estate. Karena radio siaran juga dapat melakukan fungsi kontrol sosial seperti halnya surat kabar, disamping empat fungsi media yang lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan radio siaran adalah daya langsung, daya tembus dan daya tarik.
Dari ketiga media massa tersebut, televisi merupakan media yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. Televisi merupakan bentuk penyampaian jurnalisme konvensional yang banyak diminati oleh masyarakat luas. Hal ini disebabkan oleh karena televisi dengan tampilan audio visualnya sehingga suatu informasi yang disampaikan akan lebih mudah dimengerti dan dipahami oleh masyarakat.
B. Jurnalisme Online
Jurnalisme online merupakan proses penyampaian informasi dengan menggunakan media internet. Internet mempermudah pekerjaan jurnalistik, sebab jurnalistik dapat dapat dilakukan melalui PC atau komputer. Dengan menggunakan internet sebagai alat reportase atau sumber informasi bagian media-media tradisional atau koran.
* Ciri-ciri Jurnalisme Online
1.Sifatnya yang real time. Berita, kisah-kisah, peristiwa-peristiwa, bisa langsung dipublikasikan pada saat kejadian sedang berlangsung. Ini barangkali tidak terlalu baru untuk jenis media tradisional lain seperti TV, radio, telegraf, atau teletype.
2. Dari sisi penerbit, mekanisme publikasi real time itu lebih leluasa tanpa dikerangkengi oleh periodisasi maupun jadwal penerbitan atau siaran: kapan saja dan dimana saja selama dia terhubung ke jaringan Internet maka penerbit mampu mempublikasikan berita, peristiwa, kisah-kisah saat itu juga. Inilah yang memungkinkan para pengguna/pembaca untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan sebuah peristiwa dengan lebih sering dan terbaru.
3. Menyertakan unsur-unsur multimedia adalah karakteristik lain jurnalisme online, yang membuat jurnalisme ini mampu menyajikan bentuk dan isi publikasi yang lebih kaya ketimbang jurnalisme di media tradisional. Karakteristik ini, terutama sekali, berlangsung pada jurnalisme yang berjalan di atas web.
4. bersifat interaktif. Dengan memanfaatkan hyperlink yang terdapat pada web, karya-karya jurnalisme online dapat menyajikan informasi yang terhubung dengan sumber-sumber lain. Ini berarti, pengguna/pembaca dapat menikmati informasi secara efisien dan efektif namun tetap terjaga dan didorong untuk mendapatkan pendalaman dan titik pandang yang lebih luas -bahkan sama sekali berbeda.
5. Tidak membutuhkan organisasi resmi berikut legal formalnya sebagai lembaga pers. Bahkan dalam konteks tertentu organisasi tersebut dapat dihilangkan
6. Tidak membutuhkan penyuting/redaktur seperti yang dimiliki surat kabar konvensional sehingga tidak ada orang yang mampu membantu masyarakat dalam menentukan informasi mana yang masuk akal atau tidak.
7. Tidak ada biaya berlangganan kecuali langganan dalam mengakses internet sehingga komunikan atau audience memiliki kebebasan dalam memilih informasi yang diinginkan
8.Relatif lebih terdokumentasi karena tersimpan dalam jaringan digital
Keuntungan Jurnalisme Online, seperti yang tertulis dalam buku Online Journalism. Principles and Practices of News for The Web (Holcomb Hathaway Publishers, 2005).
1. Audience Control. Jurnalisme online memungkinkan audience untuk bisa lebih leluasa dalam memilih berita yang ingin didapatkannya.
2. Nonlienarity. Jurnalisme online memungkinkan setiap berita yang disampaikan dapat berdiri sendiri sehingga audience tidak harus membaca secara berurutan untuk memahami.
3. Storage and retrieval. Online jurnalisme memungkinkan berita tersimpan dan diakses kembali dengan mudah oleh audience.
4. Unlimited Space. Jurnalisme online memungkinkan jumlah berita yang disampaikan / ditayangkan kepada audience dapat menjadi jauh lebih lengkap ketimbang media lainnya.
5. Immediacy. Jurnalisme online memungkinkan informasi dapat disampaikan secara cepat dan langsung kepada audience.
6. Multimedia Capability. Jurnalisme online memungkinkan bagi tim redaksi untuk menyertakan teks, suara, gambar, video dan komponen lainnya di dalam berita yang akan diterima oleh audience.
7. Interactivity. Jurnalisme online memungkinkan adanya peningkatan partisipasi audience dalam setiap berita.
C. Perbedaan Jurnalisme Konvensional dan Jurnalisme Online
Media yang digunakan dalam jurnalisme konvensional adalah media cetak seperti surat kabar,majalah, tabloid dan sebagainya, radio ataupun televisi. Sedangkan pada jurnalisme online menggunakan media internet untuk dapat menyampaikan informasi danberita kepada khalayaknya.
Media online dapat menyajikan berita dan informasi dalam wakyu yang sangat cepat. Bisa dapat hitungan menit bahkan detik. Ini juga menjadi perbedaan antara jurnalisme online dengan jurnalisme konvensional. Karena pada jurnalisme konvensional. Media cetak harus menunggu editan dari redaktur dan harus mencetaknya terlebih dahulu sebelum dikonsumsi oleh publik. Oleh karena itu kecepatan ini menjadi kekhasan media online meskipun media radio dan televisi yang juga dapat menyiarkan erita atau informasi secara langsung.
Berita atau informasi yang disajikan oleh media online termasuk real time, Berita, kisah-kisah, peristiwa-peristiwa, bisa langsung dipublikasikan pada saat kejadian sedang berlangsung. Mungkin hal ini bukan merupakan hal yang baru bagi media radio dan media televisi yang notabene sebagai bentuk dari media konvensional, namun mekanisme dengan sifat publikasi real time, maka penerbit media online menjadi lebih leluasa dengan jadwal penerbitan atau siaran dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja selama terhubung dengan jaringan Internet sehingga ia mampu mempublikasikan berita dan peristiwa pada saat itu juga. Hal inilah yang memungkinkan para pengguna internet atau pembaca bisa mendapatkan informasi mengenai perkembangan sebuah peristiwa dengan lebih sering dan aktual. Lebih leluasa -tanpa dikerangkengi oleh periodisasi maupun jadwal penerbitan atau siaran
Tetapi hal ini juga dapat menjadi kekurangan jurnalisme online karena arus dibuthkan internet untuk dapat membaca atau megatahui sebuah berita dan informasi yang disajikan. Berbeda dengan urnalisme konvensional yang bisa dinikmti kapan saja. Kita dapat membaca koran atau majalah ketika sedang dalam perjalanan, sambil tiduran, makan dan sebagainya. Kita juga dapar mendengarkan radio sembari mengerjakan aktivitas yang lain.
Meskipun saat ini dapat menggunakan media selain komputer untuk dapat mengakses inernet, tetap saja tidak praktis untuk dilakukan. Karena membutuhkan media lain seperti handphone misalnya untuk mengakses internet. Sedangkan setiap orang pasti mempunyai handphone yang berbeda-beda dan tingkat melek internet tiap orang pun berbeda. Sehingga dalam posisi ini jurnalisme konvensional empunyai kelebihan karena kepraktisannya.
Jurnalisme konvensional juga lebih menjamin kebenaran berita atau informasi yang disampingkan dibandingkan dengan jurnalisme online.Maksudnya adalah seperti apa yang telah disampaikan diatas bahwa, karena siapa saja bisa melakukan proses jurnalisme online, bahkan orang yang tidak memiliki ketrampilan jurnalistik bisa bercerita melalui jurnalisme online. Dengan adanya website yang menyediakan layanan blog, masyarakat dapat menggunakan media tersebut untuk menulis apa yang mereka inginkan. Itulah sebabnya kenapa jurnalisme online dapat dikatakan tidak memiliki kredibilitas, karena orang ini sangat logis, orang yang tidak memiliki kemampuan jurnalistik pun dapat bercerita lewat jurnalisme online. Kebebasan terhadap aturan-aturan jurnalistik pun menjadi salah satu penyebabnya, dimana aturan-aturan baku jurnalistik seringkali diabaikan.
Jurnalisme online memungkinkan berita tersimpan dan diakses kembali dengan mudah oleh audience. Meskipun pada jurnalisme konvensional juga dapat melukan hal ini. Tetapi waktu yang dibutuhkan sangat lama apabila menggunakan media konvensional.
Jurnalisme online juga memungkinkan jumlah berita yang disampaikan atau ditayangkan kepada audiens dapat menjadi jauh lebih lengkap daripada media lainnya. Informasi yang dapat disampaikan melalui jurnalisme online dapat dilakukan secara cepat dan langsung kepada audiens, terlebih lagi jurnalisme online memungkinkan bagi tim redaksi untuk menyertakan teks, suara, gambar, video dan komponen lainnya di dalam berita yang akan diterima oleh audiens. Dalam media cetak hanya dapat tersampaikan teks maupun gambar saja. Dalam media radio hanya terdengar suara dan untuk media televisi sudah menyerupai media online. Tetapi televisi merupakan media konvensional.
Dalam jurnalisme konvensional, tata-tutur informasi, misalnya saja disajikan secara linear kepada para pembaca atau pemirsanya. Pemirsa atau pembaca jurnalisme konvensional harus mengikuti urut-urutan informasi yang telah ditentukan oleh penerbitnya: Dari kisah satu ke kisah kedua lalu ke kisah ketiga dan seterusnya. Tetapi dalam jurnalisme online, tata-tutur informasi dapat disajikan sedemikian rupa sehingga dapat dinikmati secara non-linear untuk mengakomodasi pengguna atau pemirsanya. Seseorang dapat menikmati publikasi online dari kisah terakhir lalu melompat ke kisah sebelumnya atau ke kisah yang pernah dipublikasi sekian tahun sebelumnya dan bahkan ke sumber informasi yang sama sekali berbeda pada saat sedang mengkonsumsi informasi.
Jurnalisme online merupakan media yang digunakan oleh masyarakat supra rasional. Karena manusia biasa tidak akan betah mengakses jurnalisme online terlalu sering Jurnalisme konvensional dapat dinikmati kapanpun masyarakat membutuhkan.
Jurnalisme online menjadi media yang bisa dikonsumsi secara massa dalam waktu yang bersamaan. Dengan cepatnya koneksi internet, maka jurnalisme dapat dinikmati dari berbagai tempat. Berbeda dengan jurnalisme konvensional yang hanya terbatas pada suatu daerah misalnya. Tetapi untuk televise, saat ini sudah semakin canggih dengan adanya antenna parabola, kita juga dapat menonton program-program dari luar negeri yang mungkin orang luar negeri pun juga menonton acara yang sama.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar